Jumat, 17 Oktober 2014

OMPU MONANG NAPITUPULU INGIN SEDERHANAKAN BUDAYA BATAK

MK. Sosiologi Umum                                                              Tema   : Realitas Sosial
Nama   : Prihadi Geyan                                                            Kelas   : R02.1
Praktikum III Analisis Realisasi Sosial

OMPU MONANG NAPITUPULU INGIN SEDERHANAKAN BUDAYA BATAK
Oleh : Arbain Rambey
            Ompu Monang Napitupulu, ketua Parbato (Pertungkoan Batak Toba) bukanlah nama aslinya. Aslinya ia bernama Daniel Napitulu. Ia mengambil nama barunya setelah mendapatkan cucu pertamanya yang bernama Monang Napitupulu, sebuah kebanggaan bagi orang batak mempunyai cucu dan memakai nama cucunya tersebut.
            Kehangatan kekerabatan dalam budaya batak bukan Cuma soal nama itu, di satu sisi, kekerabatan ini membawa arus positif, salah satunya tidak ada orang batak yang buta huruf saat ini. Ini karena tanggung jawab pendidikan sudah menjadi tanggung jawab kolektif. Ompu Monang juga berkata, “Jumlah dokter di Indonesia ini juga paling banyak dari keturunan Batak”.
            Sedangkan sisi negatif kekerabatan batak, khususnya batak toba yaitu menghambur-hamburkan uang dan waktu. Contohnya yang dikatakan Ompu Monang yaitu, “Pada upacara perkawinan pasti ada acara pengulosan, yaitu setiap tamu yang datang memberikan kain ulos kepada mempelai. Ini sangat boros waktu, bagaimana mungkin semua orang akan mendatangi mempelai satu persatu untuk member kain ulos tersebut, apalagi kalau upacara perkawinan yang besar yang mengundang ratusan orang, maka mempelai juga akan menerima ratusan kain ulos, begitu juga dengan nasehat yang diberikan tiap tamu undangan terhadap mempelai”. Selain itu juga Ompu Monang menambahkan “Pemborosan uang juga terjadi dalam hal yang sama, kebanyakan dari ulos tersebut akan dijual kembali, dan dibeli lagi oleh orang lain, dan dijual lagi, begitulah seterusnya, maka saya akan berusaha memperbaiki budaya batak yang sudah dipengaruhi globalisasi ini dengan hal yang kecil terlebih dahulu, karena dengan ingin mengubah suatu hal itu kita harus memulai dari hal yang kecil dulu, yaitu dengan pesta perkawinan anakku yang akan diadakan di pertengahan Desember ini. Dalam undangan nanti, hanya orang tua dan saudara kandung mempelai yang mengundang. Lalu tidak ada nasihat-nasihat dari banyak orang, selain itu saya membatasi hanya beberapa ulos yang diberikan. Semoga contoh ini dapat memperbaiki penyelewengan adat yang boros itu.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar